#RatriPlesiran: Telusur Jejak Sejarah Mesir Kuno di Kairo dan Giza


Assalamu'alaikum wr.wb!

AKHIRNYA YHAAA setelah dua postingan terakhir sponsored melulu, ada lagi nih cerita yang cukup menarique untuk disimak, berhubung masih seger banget di ingatan. Tanggal 2-10 Januari lalu, saya akhirnya liburan sekeluarga ke tiga negara: Mesir, Palestina, dan Jordania, dalam tema yang cukup religius: napak tilas jejak para nabi, bonus menyambangi destinasi wisata wajib di sana. Rencananya memang udah lama dan awalnya mau ke destinasi lain, tetapi sebagai kepala keluarga, ayah nyaranin untuk ziarah ke Al Aqsha dulu setelah umrah ke Mekkah dan Madinah. Dan ternyata, buat yang belum tau memang ada haditsnya lho, bunyinya begini:
“Janganlah (kalian) mengkhususkan melakukan perjalanan (jauh) kecuali menuju tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram (Mekkah), Masjidku (masjid Nabawi Madinah), dan masjid al-Aqsha (Palestina)”. (H.R. Bukhari-Muslim).

Setelah sepakat nentuin waktu luang dimana adek bisa pulang, ayah belum ada jadwal ke luar kota, saya dan ibu bisa ambil cuti, mesti diintip-intip juga dong perkiraan cuaca di ketiga negara. Sekadar mengingatkan, jangan sampe ketipu sama teriknya matahari karena baik di Mesir, Palestina dan Jordania suhunya di bawah 15 derajat celcius karena sedang memasuki musim dingin. Makanya berhubung cuma bawa dua koper gede buat berempat (dengan catatan pas pulang nggak "beranak" akibat kalap beli oleh-oleh) selain ransel dan tas kecil, bawaan pun harus efisien untuk sembilan hari. Nah, untungnya bepergian pas musim dingin adalah nggak perlu kuatir keringetan karena baju bisa dipake berulang-ulang dan ditumpuk, sekaligus mraktekkin capsule wardrobe. Nanti kalo udah kelar dan puas ngebahas destinasinya akan dishare ya, tips capsule wardrobe saat liburan, hihi.

Koper udah rapi jali, paspor, tiket dan visa udah ditangani pihak travel, Funko juga udah pasti masuk ransel, paket roaming dan paket premium Spotify juga siap diaktifkan,  without a further ado, mari berangkat ke destinasi pertama, Mesir! Itung-itung sekalian belajar tentang tempat dimana Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS lahir, dibesarkan, memperlihatkan mukjizat dan firman Allah SWT serta memboyong Bani Israil hijrah dari cengkraman Ramses II melalui Laut Merah.


Day 1: 2-3 Januari 2020 (Jakarta-Muscat-Cairo)


Kamis siang, kami berempat bersama rombongan Asia Tour (yang masih kekeus-kekeus karena belom kenal kali ya, haha) berangkat dari Jakarta menuju Kairo melalui Muscat. Karena berangkat dari CGK sekitar jam 2 siang dan ada perbedaan zona waktu selama lima jam, penerbangan tuh rasanya jauh dan lamaaa banget sehingga baru sampe bandara Muscat jam 8 malem. Istirahat sebentar, lalu boarding lagi menuju Kairo dan tiba lewat tengah malem. Surprisingly, meskipun mata udah kriyep-kriyep sampe sana dikasih mawar segar sama perwakilan Alpha Tour Egypt. Maniis! Oiya, kalo lagi ke Kairo dan arrivalnya di terminal 2, pendatang juga disambut oleh patung Serqet, yang menurut kebudayaan Mesir Kuno dipercaya sebagai dewi perlindungan. Last but not least, angin dingin langsung menyambut kami karena suhunya 11 derajat celcius. Nggak jadi ngantuk deh, untuk sementara.

Day 2: 3 Januari 2020 (Cairo-Giza-Cairo)

Tak kenal maka tak sayang, kurang greget rasanya kalo melancong ke sebuah negara tanpa city tour sekaligus mengenal budaya dan sejarahnya. Selama satu hari penuh, ada tiga destinasi utama yang kami jelajahi dan punya pesona tersendiri, apalagi sepanjang perjalanan melewati sungai Nil yang aduhai cantiknya di pagi dan sore hari.

Kalo mellownya kumat, pantengin sambil dengerin soundtracknya The Prince of Egypt yang Deliver Us, deh. Thank me later!


Telisik Kehidupan Mesir Kuno di Egyptian Museum



Setelah rebahan sikit, siap-siap dan sarapan, rombongan tur langsung menuju destinasi pertama: Egyptian Museum, yang terletak persis seberang alun-alun Tahrir. Yup, alun-alun yang menjadi saksi sejarah demokrasi masyarakat Mesir dari masa ke masa itu, lho. Bisa liat langsung alun-alun Tahrir saat cuaca cerah (tapi dinginnya menusuk) sembari ngantri masuk museum jadi awal yang sempurna untuk 'kenalan' dengan sejarah Mesir. Meskipun sampe di Egyptian Museum sekitar jam 9 pagi, antriannya gak kalah rame lho dari konser, karena ada buanyaaak banget rombongan tur dari berbagai negara dengan harga tiket EGP 200 per orang. Foto pun cuma boleh pake kamera smartphone karena kalo bawa kamera biasa kena biaya lagi. Lalu karena halamannya cantik dan ada replika sphinx nganggur, foto-foto Funko juga disempetin dong sebelum masuk TETEP YEEE.

Aksara hieroglyphs. Ada yang bisa baca gak nih?


Nah, supaya masing-masing rombongan nggak berpencar dan tetap fokus selama kunjungan, Mustafa, tour guide kami selama di Mesir yang luvly, ngasih kami semacam headset yang fungsinya hanya bisa menangkap suara tour guide selama keliling museum. Begitu masuk, suasana Mesir Kuno langsung terasa dengan adanya aneka replika patung pharaoh, peti mati berlapis emas, dan tentunya aksara hiroglif. Sempet dibuat nganga oleh betapa mevvahnya makam Tutankhamun -isinya ameh semua bund- dan banyaknya printilan di sebuah makam, mulai dari riwayat hidup sampai gerbang mini (((mini))) menuju makam supaya kelak 'jiwa'nya bisa menemukan jasadnya dan akhirnya dibangkitkan kembali. Di salah satu bagian museum, ada sebuah tahta emas yang dulu diduduki oleh para raja. Karena dahulu raja nggak boleh nginjek tanah, dibuatlah sebuah alas dengan ukiran musuh-musuh si raja biar kakinya bisa menapak alias 'menginjak' musuh-musuhnya. Duile, intinya petinggi Mesir Kuno dulu butuh pengakuan at its finest nih ye koreonya. RIYA ADALAH KOENTJI!



Selain liat-liat 'printilan' kerajaan Mesir Kuno, salah satu highlight kunjungan ke Egyptian Museum ini adalah....ketemu mumi! Ketika kami masuk, sebelum meet and greet (duile, nggayak!) kami dapet pemaparan gimana cara memumikan jenazah sehingga masih keliatan awet sampe sekarang melalui ilustrasi dan etalase. Mulai dari cara mengeluarkan organ-organ tubuh yang disimpan ke empat guci kecil yang tutupnya menyerupai anak-anak Horus (Hapi, penjaga paru-paru; Duamutef, penjaga perut; Imsety, penjaga hati; dan Qebehsenuef, penjaga usus), pembalseman, sampai jimat apa aja yang harus diletakkan di atas jasad sebelum dimasukkan ke peti mati. Abis itu, baru deh beneran meet and greet sama kakak angkat sekaligus rivalnya Nabi Musa: Ramses II. Nggak cuma Ramses II, di situ ada beberapa mumi raja dan ratu Mesir Kuno yang masih kelihatan sisa-sisa raut wajahnya. Sayang, nggak boleh difoto karena selain udah ada kebijakan dari museum, kalo diliat lama-lama bikin merinding.



Dari sini bisa dilihat betapa kental dan agung tradisi Mesir Kuno yang berlangsung selama berabad-abad, tetapi juga disertai keangkuhan yang pada akhirnya malah jadi tontonan wisatawan.  Keluar dari museum rupanya ada beberapa spot ootd yang kece, lho! Waktu ke sana memang ada beberapa bagian museum yang lagi direnovasi dan diperkirakan akan selesai tahun ini. Semoga kalo ke sana lagi suasananya makin keren, ya! Kalo mau lebih totalitas dan makin tersihir sama suasana Mesir Kuno bisa mengunjungi Kuil Abu Simbel di Luxor, Alexandria. Tetapi karena agenda hari itu padat dan jarak Kairo-Giza sekitar 7km dan sampe lokasi berikutnya on time, batal deh. Duh, jadi pengen ke Alexandria juga kan jadinya.


Setelah keliling museum, mampir ke tempat pembuatan kertas papyrus dan makan siang, langsung deh kami berangkat ke.... 

Piramida, Makam Fenomenal Raja Mesir
Kombinasi padang pasir, piramida dan unta, kurang scenic apa cobaaa?

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari resto makan siang di provinsi Giza, akhirnya sampe juga ke lokasi paling scenic di Mesir: Piramida! Makin dekat melangkah, makin yakin bahwa masyarakat Mesir Kuno emang extra, lha wong bikin makam buat satu orang segede gaban, dikeker dari mana-mana juga keliatan sejauh mata memandang kalo di Giza. Walau konon di tengah piramida ada pintunya, pengunjung cuma bisa manjatin maksimal dua tingkat piramidanya, itupun udah ngeri-ngeri sedaap, hahaha. Ternyata, tiga piramida besar yang scenic ini merupakan makam dari tiga generasi pharaoh Mesir secara berurutan: Raja Khufu, anaknya Raja Khafre, dan cucunya Raja Menkaure. Nggak hanya itu, ada tiga piramida berukuran jauh lebih kecil yang diperuntukkan bagi para ratu. Oiya, konon ada ceritanya kenapa piramida berbentuk segitiga, karena ketika sebuah jasad akan dibangkitkan, piramida dan topeng pada mumi memudahkan para jiwa yang dikirim oleh Ra, dewa matahari untuk menemukannya. Kira-kira perumpamaannya begini lah....yakali


Berhubung piramida Giza jadi daya tarik pariwisata, nggak menutup kemungkinan kalo banyak kang foto bertebaran. Makanya nih biar nggak ngeluarin banyak budget, cukup cuekin dan prefer foto sendiri, karena sering minta bayaran yang konon nggak kira-kira. Lalu karena di sini juga banyak unta, biar makin menghayati suasana banyak banget wisatawan yang menyusuri piramida naik unta yang dikenakan biaya sekitar 20 EGP. Lumejen yeeee..... walau sempet kepingin, asli sih baunya bikin nggak kuat, jadilah cukup dipandang saja. Ditambah angin dan pasir yang bertiup kencang, ambyarlah sudah khayalan naik unta sambil menghirup udara, yang ada keselek! Puas keliling di dekat piramida, biar dapet foto trio piramida kami pun baik bus menuju spot cantik dengan gurun pasir. Namun karena bawa funko dan anginnya kenceng banget, daripada mainan ambruk dan makin jauh dari genggaman batal lah ambil scenery ala Star Wars, padahal pas tuh, suasananya.



Kalo lagi ke Piramida Giza, nggak afdol kalo belum jumpa fans sama sphinx yang dikenal sebagai penjaga piramida sekaligus ikonnya Mesir nan mendunia. Nah berhubung cahayanya terik banget, mau mejeng berdampingan sama sphinxnya jadi backlight, deh. Panorama di sekitar sphinx dan piramida itu...cantik banget, serasa tersihir dan ditarik kembali ke zaman Mesir Kuno sejauh mata memandang meski kelilipan. Satu-satunya yang disesali sewaktu di sana adalah nggak motoin si Newt sama sphinx aslinyaaa, heuuuu (padahal kan di buku Fantastic Beasts and Where to Find Them - bukan versi filmnya yes!- beneran ada sphinx, sebel...). Tapi nggak apa-apa deh, kan yang penting menikmati setiap momen ketika berkunjung ke Piramida, konten mainan nomer dua!



Menilik Makam Sayyidina Hussein bin Ali bin Abi Thalib
Setelah tersihir oleh piramida, kami mampir sebentar ke toko parfum sekaligus menjama' sholat dzuhur dan ashar, kemudian setelah puas belanja parfum dan mencicipi kopi rempah khas Mesir, kami beranjak ke arah kota Kairo lama untuk sholat di mesjid Al Azhar Kairo dan ziarah, berhubung lokasinya juga berdekatan. Sebenernya ada cerita syahdu nih ketika habis sholat, karena kami sempet ketemu sama beberapa mahasiswi Al Azhar Kairo yang ternyata baru bisa pulang dua tahun sekali demi menuntut ilmu. Selain itu, ketika menunggu rombongan selesai sholat, kami sempat melihat serombongan orang yang baru selesai menunaikan sholat jenazah dan mengangkat keranda. Tuh kan, sekali lagi diingetin bahwa kematian itu dekat.

Ngomong-ngomong ziarah nih, selain Nabi Musa dan Nabi Harun AS, ternyata di Mesir juga ada makam Hussein bin Ali bin Abi Thalib, salah satu dari cucu kembar Nabi Muhammad SAW yang diabadikan dalam sebuah mesjid. Kalau tau kisahnya, dulu Hasan dan Hussein harus tewas dibunuh dan dipenggal kepalanya, sehingga konon kepala sayyidina Hussein lah yang dimakamkan di Kairo, sementara tubuhnya dikuburkan di padang Karbala. Letak mesjidnya nggak terlalu jauh dari Mesjid Al Azhar Kairo dimana kami numpang menjama' shalat maghrib dan isya, karena kami bisa nyebrang dari jalur bawah tanah, sekalian ngerasain langsung ramainya suasana pasar malam di Kairo.

Berhubung jamaah laki-laki dan perempuan dipisah dan suasana rame banget dengan peziarah di malam hari (secara hari Jumat) , saya dan rombongan ibu-ibu hanya sempat masuk sebentar karena memasuki waktu shalat isya, sementara rombongan laki-laki sempat melihat mihrab sayyidina Hussein yang penuh karangan bunga. Alhasil jadilah kami jalan-jalan di pasar sambil beli oleh-oleh murah seperti pajangan kertas papyrus, aneka piring dan patung mini, magnet, dan sebagainya. Oh iya, tepat di samping pintu utama mesjid al Hussein, ada warkop dadakan dimana pemiliknya teriak-teriak happy liat rombongan Indonesia dan langsung dipersilakan duduk sambil menyeruput segelas kopi susu hangat. Seru deh, ngopi outdoor rame-rame di depan mesjid sambil menikmati riuhnya pasar malam Kairo, dengan resiko ditawarin aneka scarf dan henna sama pedagang keliling sebelum akhirnya kami kembali ke pusat kota untuk makan malam dan pulang ke hotel.

Segitu dulu ya, cerita jalan-jalan selama di Kairo, karena di postingan berikutnya, saya bakal nyeritain titik ambyar (iya, emosinya ambyar) ketika nyebrang lewat terusan Suez dan magisnya suasana St. Catherine. Stay tune!

Regards, Ratri


3 komentar:

  1. Ya ampun! Akhirnya aku tau bahwa di Mesir tidak selalu gersang, ya. Mereka ada musim dingin juga. Ihiy. Semoga ada rezeki buat ke sana juga, Bep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, cuaca dingin pun tetep cerah dong. Aamiin, semoga dimudahkan langkahnya ke sana ya beep!

      Hapus
  2. The considerable wagering requirements can be simply compensated for each of the three deposits. That is because of lengthy term|the long run} allowed by Spin Casino to conclude them. Besides, there are hundreds of Microgaming 빅카지노 slots that contribute one hundred pc to such requirements. It’s been scarcely three years since Las Vegas-based Gaming Arts, a long-successful bingo provider, began selling casino slot machines. Since then, nevertheless, the standard of the video games has been obvious as the company has progressed via different slot styles and genres. All gamers bold sufficient to leap onto our galaxy will obtain a welcome package deal value up to as} $10,000 plus 200 free spins.

    BalasHapus

Komentar boleh, nyampah gak jelas jangan ya :D